Selasa, 13 Oktober 2009

Tetralogi Buru

Roman sejarah ini ditulis Pram ketika dia tinggal di kamp Pulau Buru, sebagai tahanan politik Orde Baru. Sebagai seorang anggota Lekra (sayap kebudayaan PKI), Pram tentunya termasuk orang yang dibabat oleh rezim itu. Naskah ini termasuk yang bisa diselamatkan, karena tidak sedikit naskah Pram yang dibakar oleh Angkatan Darat (salah satunya adalah sebagian naskah novel Gadis Pantai). Dari hasil penelusuran di beberapa literature, Pram menulis naskah ini dengan mesin tik sederhana di bawah pengawasan militer yang ketat. Kalau saja tidak diselundupkan ke luar negeri oleh orang-orang yang simpati dengan perjuangannya, naskah ini sudah tentu menjadi sasaran militer untuk dibakar. Dalam buku yang lain, Pram menulis tentang kehidupan sehari-hari di kamp tersebut (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu), banyak cerita-cerita kekerasan dan pembunuhan yang kalau ditimbang secara logika, akan sangat sulit untuk menulis sebuah roman yang sangat panjang dalam kondisi seperti itu. Tapi Pram membuktikannya, bahwa menulis adalah tugas sejarah. Dia bertahan dengan budayanya, dengan budaya menulisnya. Meskipun dia sangat geram dengan pembakaran beberapa naskahnya, tapi dia terus menulis, menulis, dan menulis. Sampai akhirnya naskah ini sampai ke tangan generasi sekarang. Generasi Marlboro, J.Co dan Starbuck.

Penerbit yang pertama kali melepas naskah ini ke ranah publik adalah Hasta Mitra, sekitar tahun 80-an. Dalam waktu singkat bagian pertama tetralogi ini (Bumi Manusia) habis terjual. Begitupun dengan naskah-naskah selanjutnya, penjualannya cukup baik dan memberikan pundi-pundi keuangan yang cukup besar kepada penerbit untuk lebih mengembangkan usahanya. Tapi anak ruhani itu (buku) muncul ke ranah public ketika rezim militer sedang berkuasa, sedang awas mengawasi setiap hal yang dianggap subversive. Yang dianggap berseberangan dengan asas tunggal Pancasila, maka bersiaplah menepi ke pinggiran, atau jika berani, maka bersiaplah menerima serangan. Maka demi “menyelamatkan” Pancasila, setiap saluran distribusi buku tersebut mulai disumbat. Agen-agen penjualan mulai mundur teratur, mereka tidak berani kalau harus berhadapan dengan penguasa. Penerbit pun mulai goyah keuangannya, dan puncaknya adalah ketika Jaksa Agung melarang peredaran buku tersebut.

Lama menghilang, akhirnya naskah ini muncul kembali ketika bola reformasi digulirkan. Lentera Dipantara (penerbit yang dikelola oleh anak Pram) mulai menerbitkan kembali karya-karya Pram. Kini Tetralogi Buru bebas nongkrong di hampir semua toko buku.

Seorang kawan ada yang bertanya : Bung, harga bukunya berapa?. Semua bagian tetralogi, yang jumlahnya ada empat buku, rata-rata harga setiap bukunya adalah 80 – 100 ribu. Untuk yang berbanyak membakar cigarette, mungkin harus mengurangi dulu acara bakar membakar itu. Kawan saya yang masih mahasiswa memangkas jatah makannya menjadi dua kali, dia menghilangkan jatah makan malam untuk membeli tetralogi ini. Acara menghemat tidak berlaku bagi orang-orang yang kantongnya sesak oleh uang. Tiga buku dari tetralogi yang saya beli kini sedang terduduk manis di rak buku, di Bogor. Satu lagi meringkuk kedinginan di Bandung. Tokoh-tokoh dan jalan ceritanya tersimpan rapi dalam berlembar-lembar kertas dan deretan aksara. Ada Minke, Nyai Ontosoroh, Annelis, Robert, Darsam, Marco, dan nama-nama yang lain.

Titik pelik persalinan Indonesia sebagai sebuah bangsa dipaparkan dalam roman ini. Bagaimana awalnya pergerakan bangsa, yang dimulai dengan kegelisahan kaum pribumi alias bumi putera dalam melihat “perilaku” pemerintahan Hindia Belanda, maka langkah pertama adalah penyemaian bibit pergerakan. Dan selanjutnya adalah pencarian sejumlah spirit ke bawah, ke kehidupan masyarakat akar rumput. Rakyat dijadikan semacam objek riset untuk menegaskan bahwa pergerakan untuk melawan pemerintahan Hindia Belanda harus secepatnya dilakukan. Kemudian pergerakan dimulai dengan mendirikan dan menjalankan roda organisasi, serta perlawanan melalui pendirian media kaum pribumi. Bagian terakhir adalah serangan balik dari pemerintah Hindia Belanda dengan melakukan kegiatan pengawasan dan pengarsipan setiap gerakan pribumi, dengan demikian setiap gerakan dapat dikontrol dengan baik. Pram menyebut serangan balik ini dengan istilah rumah kaca. Di dalam rumah yang transparan, semua aktivitas penghuni dapat dilihat dengan jelas, begitu mungkin logikanya. Di bagian terakhir ini cerita pun berubah. Jika pada buku ke-1 sampai 3 tokoh utama yang bercerita adalah Mingke, si tokoh penggerak kesadaran pribumi, maka di buku ke-4 tokoh utama yang berceritanya adalah kaki tangan pemerintah Hindia Belanda, namanya Pangemanann dengan dua ‘n’. Dengan data sejarah yang cukup ketat dan lengkap (tapi masih bisa diperdebatkan), roman ini hadir sebagai sumbangan Indonesia untuk dunia. Dan Pram pun beberapa kali menjadi nominator peraih Nobel sastra.

Roman ini telah diterjemahkan kedalam puluhan bahasa asing, dan sempat mau difilmkan, tapi entah kenapa beritanya kemudian menghilang : konon Pram tidak setuju dengan rencana itu. Dalam roman ini, Pram juga menebar kata-kata penyemangat untuk mereka yang berminat menulis : “Tahu kau Nak, kenapa kau kusayang melebihi yang lain?, karena kau menulis. Menulislah, selama engkau tidak menulis, kau akan hilang dari masyarakat dan dari pusaran sejarah.” [ ]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar