Zainudin adalah anak yatim piatu. Bapaknya orang Minang yang terusir dari kampungnya, karena membunuh dalam sebuah konflik keluarga, dia seorang yang berkarakter keras. Ibunya orang Mengkasar (Makassar), seorang yang lembut. Mereka bertemu di Mengkasar, dan dua karakter akhirnya bersatu dalam pernikahan, maka lahirlah Zainudin. Sepeninggal kedua orang tuanya, Zainudin diasuh oleh seorang tua, bernama Mak Base. Dulu sewaktu ayahnya masih hidup, Zainudin sering mendengar cerita ayahnya, bahwa kampung ayahnya itu adalah sebuah kampung yang indah di balik gunung Singgalang. Cerita itu bergulir sebagai bentuk kerinduan sang ayah pada kampung halamannya yang telah lama ditingggalkan. Maka suatu hari berangkatlah Zaunudin ke kampung halaman ayahnya, diiringi tangis Mak Base yang telah lama mengasuhnya.
Di tanah Minang, Zainudin bertemu dengan Hayati, dan dimulai dari sinilah cerita terus menanjak menuju berbagai konflik. Siapa Hayati?. Apa hubungannya dengan kapal Van Der Wicjk?. Lebih baik kau baca sendiri saja, gak bakalan rame kalau saya yang bercerita.
Bung Adi Ramdhan, kawan saya waktu kuliah, sempat berbaik hati dengan meminjamkan buku ini. Maka sore itu, dapat kau lihat saya duduk di pinggir lapangan bulutangkis, di kostan Barack menghabiskan cerita ini. Anak-anak sedang berisik betul di kamar Bung Boneng, teriak-teriak “goooooll”, mendengarkan siarang langsung pertandingan Persib vs Arema melalui RRI Bandung, bikin saya kurang konsentrasi membacanya. Tapi biarin : banyak kawan akan membuat kau banyak tahu, bahwa manusia punya hobi dan kesenangan yang berlain-lainan.
Seperti cerita HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang lain, yaitu “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, buku ini pun bercerita tentang kasih yang tak sampai, sama juga seperti ceritanya Marah Rusli : Siti Nurbaya. Orang-orang melankolik mungkin akan menangis membaca cerita ini. HAMKA yang seorang ulama terkemuka di jamannya, berhasil membuat cerita yang disukai oleh banyak orang. Kok bisa ya seorang ulama bikin novel?. Apakah beliau itu ingin memberikan ibroh/pelajaran lewat cerita-ceritanya?, saya pikir demikian. Dan sekarang, saya tidak pernah temui seorang Aa Gym, Zaenudin MZ, Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Jefry, dan yang lainnya bikin novel. Mungkin mereka tidak bisa bikin, atau mungkin karena memang hobi yang berlain-lainan?.
Belakangan, saya beli juga buku itu di Palasari, 18 ribu dia punya harga (itu habis kena discount). Lalu saya baca ulang, dan cerita HAMKA tetap tidak membosankan. Sekarang bukunya sudah agak langka, tapi mungkin ada dalam bentuk e-book, dan saya tidak pernah mencarinya. [ ]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar