
Karena saya belum punya, maka saya belum betul-betul membacanya. Membaca apa? : buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara. Buku bercover hitam yang cukup tebal dan harganya lumayan mahal. Tapi untuk orang yang berbanyak uang, harga mungkin bukanlah masalah.
Lebaran sudah lewat, waktunya untuk arus balik. Saya meluncur dari Sukabumi menuju Jayakarta, untuk kembali mengaduk-ngaduk job des di depan meja. Perjalanan yang kurang menyenangkan, kepala pusing dan hampir mengeluarkan sesuatu dari mulut : mual melanda, dirayu bau bensin dan asap Djarum Coklat. Menjelang gelap saya tiba di Jakarta.
Besoknya lewat pesan di ponsel, si Joni laporan : "lapor komandan, Api Sejarah sudah di tangan, laporan selesai". Tanpa menunggu hari esok langsung saya balas : "laporan diterima, segeralah kau ke tanah Jawa, wah curiga deuk mawa apollo (semacam kue yang bagus buat perut lapar) yeuh?". SMS langsung dijawab lagi : "negatip ah, urang deuk mawa nasi lemang". Saling balas pesan kemudian berhenti.
Besoknya setelah bikin janji yang cukup bagus, akhirnya si Joni tiba di Depok, meninggalkan kampungnya di Siak, di sebuah tanah di wilayah Andalas. Agenda pertama adalah membantai nasi lemang yang ukurannya bisa masuk MURI, dan rasanya mengesankan : dahar saeutik menyebabkan wareg !!. Tak lupa kasih juga yang punya kostan sebagai silaturahim kepada tetangga. Setelah perut terjungkal telak oleh hantaman nasi lemang, lalu si Joni tidur siang dan saya menyapa buku Api Sejarah.
Isinya, isi buku Api Sejarah itu sepertinya dapat menghantam tulisan sejarah di buku-buku mainstream di sekolah. Harus berbanyak meluangkan waktu agar dapat menghabiskan semua isinya. Dan hari semakin senja setelah itu. [ ]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar