Jumat, 16 Oktober 2009

Kuantar ke Gerbang


Soekarno muda, atau Inggit memanggilnya dengan sebutan Kusno, adalah seorang mahasiswa cerdas yang aktif mengorganisasi berbagai elemen pergerakan kaum muda. Dia kuliah di sekolah teknik di Bandung, yang sekarang bernama ITB. Oleh ayah mertuanya (Soekarno sudah menikah dengan Utari) dia dititipkan di salah seorang kawannya yang tinggal di Bandung. Di kota ini kemudian Soekarno bertemu dengan Inggit dan menikahinya, sementara istrinya yang pertama dia kembalikan kepada orangtuanya.

Sebagai seorang aktivis, rumah Soekarno kerapkali didatangi oleh para mahasiswa, wartawan, karyawan, dan elemen pergerakan lainnya untuk membicarakan strategi perlawan terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Dan oleh sebab itulah, Inggit kerapkali “direpotkan” dengan urusan ini-itu untuk sekedar menjamu tamu-tamu suaminya. Inggit melihat suaminya yang lebih muda itu, sebagai sosok seorang pemimpin masadepan yang akan menjadi pelopor kebangkitan bangsanya, oleh karena itu dia bantu sebisa mungkin setiap kebutuhan yang akan melancarkan cita-cita perjuangan Soekarno muda.

Ketika Belanda mulai merasa terancam oleh sepak terjang Soekarno, maka dia ditangkap dan dijebloskan ke penjara Sukamiskin. Romantika perjuangan dan kecintaan Inggit pada suaminya dilukiskan oleh Ramadhan K.H (penulis buku ini-sekarang sudah alm) dengan cukup baik. Inggit banting tulang berjualan untuk membiayai suaminya yang sedang di penjara. Dia berjalan kaki dari Ciateul ke Sukamiskin untuk menengok Soekarno sambil membawa makanan. Waktu Soekarno dibuang ke Bengkulu, Inggit pun ikut ke sana. Ikut merasakan keprihatinan hidup di pembuangan sebagai tahanan politik Belanda. Dan di episode-episode perjuangan Soekarno yang lain, Inggit setia menemaninya.

Kisah percintaan di tengah gejolak revolusi itu harus berakhir ketika Soekarno meminta ijin kepada Inggit untuk menikah lagi, karena selama ini pernikahannya dengan Inggit belum kunjung berhasil menghadirkan seorang anak. “Teu sudi kuring mah dimadu, leuwih alus balikkeun we ka kolot kuring” (saya tidak mau dimadu, lebih baik kembalikan saja saya kepada orangtua saya), jawab Inggit dengan nada bicara yang getir. Inggit mengantarkan Soekarno hanya sampai pintu gerbang kemerdekaan.

“Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan”, demikian kata Inggit, mengantar kepergian Soekarno ketika mereka berpisah. Episode kisah ini seperti sebuah pohon kecil di taman luas sejarah Indonesia. Dan penulisan sejarah mainstream, sangat jarang mengangkat pengabdian seorang perempuan asal Ciateul ini. Apakah sejarah hanya berpihak pada orang-orang besar saja?. [ ]

Ats-Tsawabit Wal-Mutaghayyirat


Untuk orang-orang yang berafiliasi dengan jama’ah Tarbiyah, buku ini mungkin sudah tidak asing lagi. Sebab, buku apa yang beredar atau sering dibaca oleh orang-orang yang tergabung dengan sebuah harokah atau pergerakan, sedikit-banyaknya ternyata bisa dideteksi. Manhaj dan fikrah sebuah gerakan, tidak sedikit yang diabadikan dalam buku-buku yang dibuat oleh para aktivisnya. Mereka, para aktivis yang menulis itu, adalah mereka yang sadar akan pentingnya sebuah proses pewarisan. Dan dari seorang aktivis pergerakanlah buku ini lahir, dia memetakan prinsip-prinsip dakwah dalam bentuk tulisan.

Ikhwanul Muslimin sebagai sebuah organisasi dakwah (menurut beberapa literature adalah gerakan Islam terbesar abad ke-20), tentu mengalami perjalanan dalam menempuh medan dakwahnya yang terus bergerak dinamis. Dalam kondisi seperti itulah dakwah akan mengalami perkembangannya dalam hal konsep. Jum’ah Amin, penulis buku ini memetakan bahwa konsep dakwah Ikhwan harus bisa permanen dan fleksibel. Artinya, prinsip-prinsip apa saja yang tidak boleh berubah, dan apa yang boleh disesuaikan dengan perubahan medan dakwah, tetapi tetap dalam bingkai dakwah yang konprehensif.

Tapi menurut saya, dalam buku ini penulis lebih banyak membahas sisi Tsawabit (permanen)nya, daripada yang Mutaghayyirat (fleksibel). Ada sepuluh poin yang penulis kemukakan tentang konsep-konsep permanen dalam dakwah Ikhwan. Diantaranya yaitu : Ikhwan menolak kekerasan dalam dakwahnya, kewajiban beramal jama’i dalam dakwah, syuro sebagai pemersatu yang mengikat bila terjadi perbedaan pendapat diantara Ikhwan. Disertai dengan pembahasan rukun-rukun baiat dan 20 prinsip dasar dakwah Ikhwan, buku ini semakin memperkaya literature yang selama ini telah banyak dijadikan sebagai buku pegangan para aktivis dakwah, khususnya jama’ah Tarbiyah.

Tahun terbit dalam buku ini (edisi Indonesia) tertera tahun 2008, artinya buku ini muncul sepuluh tahun setelah jama’ah Tarbiyah bermetamorfosis menjadi partai politik. Pertanyaannya : apakah buku ini sengaja dihadirkan untuk mendukung ijtihad pembentukan partai politik?. Dan apakah pembentukan partai politik itu adalah salah satu bentuk Al-Mutaghayyirat (fleksibel)?. Kawan-kawan mungkin ada yang lebih tahu jawabannya?. [ ]

Kamis, 15 Oktober 2009

Orang-orang Bloomington

Apakah kau pernah punya tetangga yang cerewet, usil, jorok, nyinyir, menjengkelkan, menyebalkan, dan sok tahu?. Bagaimana perasaanmu punya tetangga-tetangga seperti itu?. Tidak nyaman bukan?. Kalau kau belum punya, mari kita jalan-jalan ke Bloomington bersama Budi Darma. Bersama penulis yang tidak jarang sangat tega memperlakukan tokoh-tokoh ceritanya. Bersama penulis yang telah melahirkan beberapa karya : Rafillus, Olenka, Fofo Senggring, Orang-orang Bloomington, dll.

Saya dapat buku ini di Rumah Buku (komunitas pecinta buku dan film), di Jalan Hegarmanah-Setiabudi (yang tidak tahu Bandung, mohon maaf). Bung Ivan Hadi Pranata (ivankampak.multiply.com) menjadi provokator, dia mengajak saya jadi member Rumah Buku, maka lihatlah siang itu saya hujan-hujanan seperti film India, duduk di belakang jok motornya, meluncur menembus derasnya hujan untuk sekedar meminjam dua buah buku. Mangsanya adalah “Mereka yang Dilumpuhkan” karya Pram, dan “Orang-orang Bloomington”. Saya sedang membicarakan yang kedua.

Buku kumpulan cerpen ini akan sangat terasa bedanya, oleh mereka yang berbanyak membaca cerpen karangan penulis-penulis lain. Kalau kau pernah baca cerpen-cerpennya Joni Ariadinata, Hamsad Rangkuti, Helvy Tiana Rosa, Gola Gong, Seno Gumira Ajidarma, AA. Navis, Djenar Maesa Ayu, dan yang lainnya, maka kau akan tahu bahwa Budi Darma membangun karakter tokohnya dengan sangat kuat. Dia perlakukan tokoh-tokohnya menjadi orang-orang yang menjengkelkan, menyebalkan, dan karakter-karakter yang lain. Orang mungkin akan berpikir bahwa si penulis, si Budi Darma ini adalah seorang yang sifatnya sama dengan tokoh-tokoh yang dia bangun, padahal kata orang-orang yang kenal dengan beliau, dia adalah seorang yang low profile, kontradiktif dengan tokoh-tokoh rekaannya. Kumpulan cerita ini menurut saya bisa menjadi sebuah bahan otokritik : apakah kita sering usil, cerewet, dan membuat orang lain jengkel?. Selamat bercermin.

Setelah selesai membaca buku ini, saya sempat bersemangat menulis cerpen dengan karakter tokohnya meniru gaya Budi Darma, tapi hasilnya hanya beberapa paragraph : “Penghuni Kost Nyonya Endeus” dan “Olva Mengintip di Jendela”, yang saya posting di uwa82.multiply.com, setelah itu saya belum pernah menulis cerpen lagi.

Budi Darma membuat karya ini sewaktu beliau menempuh studi di Bloomington, jadi semacam oleh-oleh dari hasil “jalan-jalan”-nya di negeri orang. Sepulang dari luar negeri, beliau sempat mengajar di beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur, dan di peta Sastra Indonesia, beliau mendapat tempat yang cukup terhormat. [ ]

Jendela-jendela

Banyak yang menyukai tulisan-tulisannya Fira Basuki, buku triloginya (Pintu, Jendela, Atap) mendapat respon yang cukup baik dari pembaca. Dan dari sekian banyak pembaca itu, saya adalah salah satu yang kurang begitu suka dengan tulisannya. Alasannya kenapa?, kau tidak perlu mengetahuinya. Saya dapat buku ini di Palasari, waktu jalan-jalan minggu siang yang tidak menyenangkan : Bandung sedang panas dan macet pisan.

Fira menceritakan sebuah keluarga muda asal Indonesia yang menetap di Singapura. Si istri yang tinggal di apartemen (sementara suaminya bekerja), sempat selingkuh dengan kawannya. Itu penggalan cerita yang paling saya ingat dari buku ini, sementara sisanya saya lupa lagi. Mungkin kawan-kawan ada yang bertanya : menceritakan perselingkuhan kok lewat buku segala mbak?, silahkan berkomunikasi langsung dengan beliau di Facebook atau di Multiply. Bagi saya tidak ada kesan apa pun setelah membaca buku ini, selain kata-kata : “ah, kurang rame”.

Selain menulis trilogy, dia juga menulis buku “Biru” dan novel adaptasi dari film karya Garin Nogroho : “Cinta Dalam Sepotong Roti”. Buku novel adaptasinya cukup tipis serta ukurannya kecil, dan seperti novel-novel Indonesia yang diadaptasi dari film : isinya tidak ada yang istimewa (Biola Tak Berdawai mungkin pengecualian). Sekarang semakin banyak saja penulis perempuan yang hadir di dunia perbukuan Indonesia, dan akan kau dapati bahwa mereka melakukan perang karya dan pemikiran, berlomba meyakinkan para pembaca dengan tulisan-tulisannya. Dan memang, karya harus dibalas dengan karya, tulisan dilawan dengan tulisan. [ ]

Menghilangkan Trauma Persepsi

Buku ini adalah kumpulan materi yang disampaikan oleh KH. Hilmi Aminudin (Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera) kepada para kader partai tersebut dalam berbagai pertemuan. Naskah ini awalnya hanyalah sekumpulan arsip yang tersimpan rapi di Sekretariat Jenderal Arsip dan Sejarah DPP PKS, namun para pengurusnya kemudian berinisiatif untuk membukukan dan melemparnya ke ranah publik, dengan tujuan agar arsip dokumen tidak sekedar menjadi benda yang kaku dan hanya dibuka lagi sewaktu-waktu, tapi berubah menjadi sesuatu yang bisa diakses publik, sebagai pembuktian dari sikap partai yang (katanya) tidak eksklusif, juga sebagai bahan pembelajaran untuk setiap kader partai dakwah itu.

Pertama kali lihat buku ini adalah di toko buku Al Amin, Bogor. Tapi saya tidak merasa tertarik. Beberapa bulan kemudian, setelah berkomunikasi dengan Bung Hamzah (kawan sewaktu kuliah), barulah saya penasaran dengan isi buku ini. Lalu saya balik lagi ke Bogor, dan menawannya sampai sekarang. Isinya adalah tentang arahan-arahan dan nasihat sang ketua Dewan Syuro kepada para kader partai yang bertarung di tengah hiruk-pikuk dan galaunya dunia politik Indonesia. Ide-idenya menurut saya cukup segar dan visioner. Jika kita selama ini merasa heran dan bertanya-tanya mengenai manuver-manuver PKS yang “aneh” dalam berpolitik, maka buku ini bisa memberikan jawabannya.

Yang cukup mengganggu dari buku ini adalah terlalu banyaknya istilah-istilah bahasa Arab yang digunakan oleh KH. Hilmi Aminuddin dalam menyampaikan taujihnya. Meskipun ada penjelasan dalam bahasa Indonesianya, tapi tetap saja menurut saya mengurangi kenyamanan dalam membaca. Buku ini terbit hard cover dan harganya tidak terlalu tinggi.

Jika kita ingin “melihat” PKS, berarti kita juga harus “melihat” sejarah gerakan Ikhwanul Muslimin a.k.a Tarbiyah yang masuk ke Indonesia. Sebab pengetahuan yang parsial akan menghasilkan pemahaman yang parsial juga. Kini PKS tumbuh sebagai partai politik yang penuh dinamika. Mungkin kurang tepat jika disebut faksi, yang jelas perbedaan-perbedaan di dalam partai tentulah ada, bahkan di dalam jamaah Tarbiyah (sebelum era partai) sendiri perbedaan-perbedaan itu sudah ada. Cukup menarik jika kita mengikuti pendapat-pendapat Ustadz Daud Rasyid, Ustadz Ihsan Tanjung, dan ustadz-ustadz Tarbiyah yang lain, yang berada diluar kepengurusan partai. Baru-baru ini saya mengikutinya di eramuslim. [ ]

Rabu, 14 Oktober 2009

Andaikan Buku itu Sepotong Pizza

Kau tidak perlu tahu, bahwa di Gramedia jalan Merdeka itu ada semacam toko cadangan. Ruangan untuk menampung buku-buku yang nilai penjualannya agak memprihatinkan, alias kurang laku. Sampai nanti akan kau temui ada yang harganya 5 ribu, karena sepertimya main obral begitu saja daripada tidak ada yang membeli. Tapi jangan harap buku-buku karangan Andrea Hirata, Dee, dan Habiburrahman akan nongkrong di sini. Setidaknya untuk saat ini hal itu sulit terwujud, barangkali nanti beberapa tahun ke depan. “Andaikan Buku itu Sepotong Pizza”, saya lihat tengah meringkuk di pojok toko cadangan itu, barangkali dia malu, sebab orang-orang kurang berminat kepadanya. Padahal penulisnya lumayan terkenal, dia pernah menulis buku “Aku Ingin Bunuh Harry Potter” dan “Mengikat Makna” yang konon best seller : Hernowo.

Coba bayangkan, bagaimana kalau buku itu adalah sepotong pizza yang lezat, banyak taburan ini-itu, dan ada toppingnya juga. Tentu kita akan lahap menyantapnya. Begitulah Hernowo menulis buku ini : banyak betul taburan cerita, kata-kata mutiara, pengalaman yang (menurut dia) berharga. Hernowo seperti ingin mengajak para pembacanya untuk masuk ke setapak jalan yang dia lalui, maka bersiasatlah dia dengan mengemas tulisannya semenarik mungkin.

Kalau gak salah dia juga sempat mengutip kata-kata Ali Syariati (penulis Iran) : “Jangan jadikan rumahmu sebagai kandang, yang isinya hanya makanan dan minuman saja. Isi juga dia dengan buku, sebagai makanan ruhanimu. Jika ruhanimu haus, maka kau dapat memenuhinya dari buku-buku itu.” Tapi, bagaimanapun Hernowo bersiasat, buku tetaplah buku : penjualannya dipengaruhi oleh banyak factor, diantaranya selera pembeli dan kondisi keuangan.

Saya sempat membayangkan, bagaimana jadinya kalau judul buku ini diganti : “Andaikan Buku itu Sepotong Bala-bala”, akankah dia menjadi lebih laku?. Ah, jangan banyak melamun kau !. [ ]

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk


Zainudin adalah anak yatim piatu. Bapaknya orang Minang yang terusir dari kampungnya, karena membunuh dalam sebuah konflik keluarga, dia seorang yang berkarakter keras. Ibunya orang Mengkasar (Makassar), seorang yang lembut. Mereka bertemu di Mengkasar, dan dua karakter akhirnya bersatu dalam pernikahan, maka lahirlah Zainudin. Sepeninggal kedua orang tuanya, Zainudin diasuh oleh seorang tua, bernama Mak Base. Dulu sewaktu ayahnya masih hidup, Zainudin sering mendengar cerita ayahnya, bahwa kampung ayahnya itu adalah sebuah kampung yang indah di balik gunung Singgalang. Cerita itu bergulir sebagai bentuk kerinduan sang ayah pada kampung halamannya yang telah lama ditingggalkan. Maka suatu hari berangkatlah Zaunudin ke kampung halaman ayahnya, diiringi tangis Mak Base yang telah lama mengasuhnya.

Di tanah Minang, Zainudin bertemu dengan Hayati, dan dimulai dari sinilah cerita terus menanjak menuju berbagai konflik. Siapa Hayati?. Apa hubungannya dengan kapal Van Der Wicjk?. Lebih baik kau baca sendiri saja, gak bakalan rame kalau saya yang bercerita.

Bung Adi Ramdhan, kawan saya waktu kuliah, sempat berbaik hati dengan meminjamkan buku ini. Maka sore itu, dapat kau lihat saya duduk di pinggir lapangan bulutangkis, di kostan Barack menghabiskan cerita ini. Anak-anak sedang berisik betul di kamar Bung Boneng, teriak-teriak “goooooll”, mendengarkan siarang langsung pertandingan Persib vs Arema melalui RRI Bandung, bikin saya kurang konsentrasi membacanya. Tapi biarin : banyak kawan akan membuat kau banyak tahu, bahwa manusia punya hobi dan kesenangan yang berlain-lainan.

Seperti cerita HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang lain, yaitu “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, buku ini pun bercerita tentang kasih yang tak sampai, sama juga seperti ceritanya Marah Rusli : Siti Nurbaya. Orang-orang melankolik mungkin akan menangis membaca cerita ini. HAMKA yang seorang ulama terkemuka di jamannya, berhasil membuat cerita yang disukai oleh banyak orang. Kok bisa ya seorang ulama bikin novel?. Apakah beliau itu ingin memberikan ibroh/pelajaran lewat cerita-ceritanya?, saya pikir demikian. Dan sekarang, saya tidak pernah temui seorang Aa Gym, Zaenudin MZ, Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Jefry, dan yang lainnya bikin novel. Mungkin mereka tidak bisa bikin, atau mungkin karena memang hobi yang berlain-lainan?.

Belakangan, saya beli juga buku itu di Palasari, 18 ribu dia punya harga (itu habis kena discount). Lalu saya baca ulang, dan cerita HAMKA tetap tidak membosankan. Sekarang bukunya sudah agak langka, tapi mungkin ada dalam bentuk e-book, dan saya tidak pernah mencarinya. [ ]

Sambel Jaér

Barudak lembur mah pasti arapaleun, mun datang bulan puasa téh maranéhna sok rajeun ngabuburit sabari ngurek di sisi sawah. Majarkeun téh améh puasana teu karasa lapar ceunah, da poho bakating ku resep silih bedol jeung tanaga belut nu caricing dina liang, di handapeun galengan. Bulan puasa di lembur mah tétéla béda pisan karasana jeung di kota, di lembur mah aya wé kaulinan téh : galasin, sorodot gaplok, sondah, boy-boyan, nyundut lodong, maribaya, bébénténgan, dar paéh, dér adidér, congklak, jeung sajabana. Kitu oge kétang baheula, mangsa kuring keur budak kénéh, da ari anyeuna mah sarua baé, di lembur gé geus aya PS, VCD, DVD, listrik geus hurung beurang-peuting, jeung sajabana. Barudak téh anyeuna mah loba caricing di imah, maraén gim atawa lalajo pilem. Jaman téh tétéla geus robah, geus loba nu poho kana kaulinan budak baheula.

Buku “Sambel Jaér” nu dikarang ku sadérék Asep Ruhimat (urang Tasik), nyaritakeun kaolahan, palakiah, tali paranti, pantangan, jeung kakantun para karuhun anu sanésna. Kuring meulina di Gramedia nu di jalan Merdéka téa geuning. Harita kuring leumpang sorangan sabari nyorén tas kucel, wanci geus soré, jalan beuki ramé ku nu daragang, nalalongkrong, atawa barobogohan. Sora angkot meni ting garerung sabari ngetém di jalan Purnawarman dan nungguan panumpang anu rék baralik ka imahna séwang-séwangan. Teu kungsi lila, kuring abus ka éta toko buku, kukurilingan bari macaan buku nu alalanyar. Ah, tapi euweuh nu ramé. Terus kuring leumpang ka rak buku-buku bahasa nu aya di juru, tah buku Sambel Jaér ieu ayana di bagéan handap, sabari teu loba, mun teu salah mah ngan aya genep siki. Hargina ngan ukur dua welas rebu. Jiga euweuh nu meuli, da bukuna téh teu katempo aya tapak jelema nu ngadon maca. Karunya teuing buku nu make basa Sunda, jelema nu daratang téh jiga nu teu warawuh ka manéhna.

Ari anyeuna aya kénéh nu sok ngulub gelas?, nyieun sambel jaér?, ngalungkeun huntu nu punglak ka luhureun kenténg?, nyieun tutug oncom?, nyambel hiris?, mun nyeri beuteung mésakan batu?, mun isukan rék bulan puasa marandi di balong sabari kuramas?, mun rék disunatan kudu ngeueum heula améh ba’al?. Jigana tos rada langka mendakan nu kararitu?. Tah buku ieu téh minangka panggeuing, yén kakantun para karuhun téh geus loba nu dipopohokeun, geus loba nu apilain ka warisan kolot sorangan. Cag, mangga urang lenyepan anyeuna mah, naha enya urang téh nyaah kana kabudayaan bangsa sorangan?. Naha enya urang téh geus ngamumulé kana kakantun aki-nini?.

Mangga dulur-dulur, abdi moal seueur catur. Tos sonten yeuh, padamelan seueur kénéh. Bilih hoyong maca mah cobi wéh ameng ka toko buku, insyaAlloh aya kénéh.[ ]


Selasa, 13 Oktober 2009

Mencari Pahlawan Indonesia


Buku ini hilang. Kehilangan buku adalah salah satu seni dalam usaha belajar mencintai tulisan. Jadi tak perlulah kau menangisi buku-buku yang hilang itu, bukankah kau awalnya tidak punya apa-apa?. Tapi memang harus diakui, bahwa orang yang memperlakukan buku dengan tidak bertanggungjawab, bukanlah orang yang nyaman untuk diajak berkawan. Tapi, sikap apa yang lebih baik selain mema’afkan?. Kawan adalah nutrisi abadi, yang kalau dijadikan permen, maka akan saya habiskan sedikit demi sedikit, biar tidak cepat hilang.

Di majalah Tarbawi, di halaman paling belakang, ada rubrik yang bernama Thumuhat (Gelora) yang diisi oleh tulisan-tulisan Anis Matta. Dari kumpulan kolom ini, kini sudah terbit dua buku : “Mencari Pahlawan Indonesia” dan “Serial Cinta”, saya sedang membicarakan yang pertama. Serial kepahlawanan yang kemudian dibukukan ini, sudah lama saya incar, sebab banyak sekali edisi yang saya tidak mengikutinya alias ketinggalan. Maka bergiatlah saya ke toko buku, tapi hasilnya nihil. Sampai akhirnya sebuah poster memberitahu : Pameran Buku Bandung di Jalan Braga.

Mencari buku itu, benar-benar seperti mencari pahlawan Indonesia masa kini : cukup susah. Mungkin jalur distribusinya kurang kuat, makanya bisa begitu. Secara fisik, ukuran bukunya kecil, sehingga harganya pun tidak begitu tinggi, kalau gak salah, harganya 25 ribu. Tidak lebih dari satu hari, buku itu habis saya baca. Lalu disimpan di lemari excel, lalu kamar kostan di Ciwaruga diserang oleh banyak betul mahasiswa : seremonial ngopi, ngerokok, nonton, game, baca buku, nyontek tugas, main gitar, nyanyi-nyanyi, dan buang abu rokok ke atap sebuah sekolah dasar. Dan hilanglah buku itu entah ke mana.

Tapi saya masih ingat : kumpulan tulisan Anis Matta itu seperti menyodorkan sebuah proposal, bahwa tugas kita bukan hanya sebagai penonton sejarah, tapi juga harus sebagai pelaku sejarah. Mencari pahlawan sesungguhnya pencarian ke dalam diri sendiri. Watak dan karakter seorang pahlawan bukanlah sebuah mimpi yang menggantung di langit tinggi, tapi pembangunan kesadaran di semesta diri. Dengan bahasa yang padat dan pilihan kata yang bagus, buku ini bisa menjadi sumbu, sebagai awal sebelum ledakan.

Apakah kau pantas menjadi pah(a)la-wan?. [ ]

Tetralogi Buru

Roman sejarah ini ditulis Pram ketika dia tinggal di kamp Pulau Buru, sebagai tahanan politik Orde Baru. Sebagai seorang anggota Lekra (sayap kebudayaan PKI), Pram tentunya termasuk orang yang dibabat oleh rezim itu. Naskah ini termasuk yang bisa diselamatkan, karena tidak sedikit naskah Pram yang dibakar oleh Angkatan Darat (salah satunya adalah sebagian naskah novel Gadis Pantai). Dari hasil penelusuran di beberapa literature, Pram menulis naskah ini dengan mesin tik sederhana di bawah pengawasan militer yang ketat. Kalau saja tidak diselundupkan ke luar negeri oleh orang-orang yang simpati dengan perjuangannya, naskah ini sudah tentu menjadi sasaran militer untuk dibakar. Dalam buku yang lain, Pram menulis tentang kehidupan sehari-hari di kamp tersebut (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu), banyak cerita-cerita kekerasan dan pembunuhan yang kalau ditimbang secara logika, akan sangat sulit untuk menulis sebuah roman yang sangat panjang dalam kondisi seperti itu. Tapi Pram membuktikannya, bahwa menulis adalah tugas sejarah. Dia bertahan dengan budayanya, dengan budaya menulisnya. Meskipun dia sangat geram dengan pembakaran beberapa naskahnya, tapi dia terus menulis, menulis, dan menulis. Sampai akhirnya naskah ini sampai ke tangan generasi sekarang. Generasi Marlboro, J.Co dan Starbuck.

Penerbit yang pertama kali melepas naskah ini ke ranah publik adalah Hasta Mitra, sekitar tahun 80-an. Dalam waktu singkat bagian pertama tetralogi ini (Bumi Manusia) habis terjual. Begitupun dengan naskah-naskah selanjutnya, penjualannya cukup baik dan memberikan pundi-pundi keuangan yang cukup besar kepada penerbit untuk lebih mengembangkan usahanya. Tapi anak ruhani itu (buku) muncul ke ranah public ketika rezim militer sedang berkuasa, sedang awas mengawasi setiap hal yang dianggap subversive. Yang dianggap berseberangan dengan asas tunggal Pancasila, maka bersiaplah menepi ke pinggiran, atau jika berani, maka bersiaplah menerima serangan. Maka demi “menyelamatkan” Pancasila, setiap saluran distribusi buku tersebut mulai disumbat. Agen-agen penjualan mulai mundur teratur, mereka tidak berani kalau harus berhadapan dengan penguasa. Penerbit pun mulai goyah keuangannya, dan puncaknya adalah ketika Jaksa Agung melarang peredaran buku tersebut.

Lama menghilang, akhirnya naskah ini muncul kembali ketika bola reformasi digulirkan. Lentera Dipantara (penerbit yang dikelola oleh anak Pram) mulai menerbitkan kembali karya-karya Pram. Kini Tetralogi Buru bebas nongkrong di hampir semua toko buku.

Seorang kawan ada yang bertanya : Bung, harga bukunya berapa?. Semua bagian tetralogi, yang jumlahnya ada empat buku, rata-rata harga setiap bukunya adalah 80 – 100 ribu. Untuk yang berbanyak membakar cigarette, mungkin harus mengurangi dulu acara bakar membakar itu. Kawan saya yang masih mahasiswa memangkas jatah makannya menjadi dua kali, dia menghilangkan jatah makan malam untuk membeli tetralogi ini. Acara menghemat tidak berlaku bagi orang-orang yang kantongnya sesak oleh uang. Tiga buku dari tetralogi yang saya beli kini sedang terduduk manis di rak buku, di Bogor. Satu lagi meringkuk kedinginan di Bandung. Tokoh-tokoh dan jalan ceritanya tersimpan rapi dalam berlembar-lembar kertas dan deretan aksara. Ada Minke, Nyai Ontosoroh, Annelis, Robert, Darsam, Marco, dan nama-nama yang lain.

Titik pelik persalinan Indonesia sebagai sebuah bangsa dipaparkan dalam roman ini. Bagaimana awalnya pergerakan bangsa, yang dimulai dengan kegelisahan kaum pribumi alias bumi putera dalam melihat “perilaku” pemerintahan Hindia Belanda, maka langkah pertama adalah penyemaian bibit pergerakan. Dan selanjutnya adalah pencarian sejumlah spirit ke bawah, ke kehidupan masyarakat akar rumput. Rakyat dijadikan semacam objek riset untuk menegaskan bahwa pergerakan untuk melawan pemerintahan Hindia Belanda harus secepatnya dilakukan. Kemudian pergerakan dimulai dengan mendirikan dan menjalankan roda organisasi, serta perlawanan melalui pendirian media kaum pribumi. Bagian terakhir adalah serangan balik dari pemerintah Hindia Belanda dengan melakukan kegiatan pengawasan dan pengarsipan setiap gerakan pribumi, dengan demikian setiap gerakan dapat dikontrol dengan baik. Pram menyebut serangan balik ini dengan istilah rumah kaca. Di dalam rumah yang transparan, semua aktivitas penghuni dapat dilihat dengan jelas, begitu mungkin logikanya. Di bagian terakhir ini cerita pun berubah. Jika pada buku ke-1 sampai 3 tokoh utama yang bercerita adalah Mingke, si tokoh penggerak kesadaran pribumi, maka di buku ke-4 tokoh utama yang berceritanya adalah kaki tangan pemerintah Hindia Belanda, namanya Pangemanann dengan dua ‘n’. Dengan data sejarah yang cukup ketat dan lengkap (tapi masih bisa diperdebatkan), roman ini hadir sebagai sumbangan Indonesia untuk dunia. Dan Pram pun beberapa kali menjadi nominator peraih Nobel sastra.

Roman ini telah diterjemahkan kedalam puluhan bahasa asing, dan sempat mau difilmkan, tapi entah kenapa beritanya kemudian menghilang : konon Pram tidak setuju dengan rencana itu. Dalam roman ini, Pram juga menebar kata-kata penyemangat untuk mereka yang berminat menulis : “Tahu kau Nak, kenapa kau kusayang melebihi yang lain?, karena kau menulis. Menulislah, selama engkau tidak menulis, kau akan hilang dari masyarakat dan dari pusaran sejarah.” [ ]


Senin, 12 Oktober 2009

Tiara Lestari - Uncut Stories


Menulis tentang buku ini seperti menjadi presenter acara-acara gossip. Salah satu yang membedakannya adalah antara budaya lisan dan budaya tulisan. Dan saya menempuh jalan yang kedua. Jalan yang sunyi senyap, saya mencoba berdiri di antara deretan aksara yang sebagian kuat, dan sebagiannya lagi rapuh. Bersama beberapa orang kawan, beberapa kali membuat formula : kopi, cigarette, buku, dan humor segar bercampur pahit.

Telah beberapa kali Pasar Buku Palasari terbakar. Dan akan kau dengar dua penyebabnya, seperti yang sering diberitakan di media-media corong : kompor gas meledak atau konsleting arus pendek. Api dengan ganas membakar anak-anak ruhani para penulis. Para pedagang merugi, hartanya ludes, dan menyisakan bara yang masih menyala. Mereka bertanya-tanya : apakah kebakaran ini disengaja?. Pertanyaan yang tidak pernah mendapatkan jawaban.

Di kios paling belakang, saya memperhatikan buku-buku yang tingginya mencapai langit-langit. Kalau saja buku itu runtuh, dan menimpa anak kecil, bisa dibayangkan akibatnya. Harus naik tangga kalau kau mau lihat buku yang paling atas. Bau manusia kalau oleh aroma buku. Jangan bawa duit banyak-banyak, nanti kau tergoda sama rayuan mereka, sama buku-buku yang berdesakan itu. Saya pasang mata dengan kondisi siaga 1, mencari beberapa buku bagus buat oleh-oleh pulang ke Cengkareng, jongos tidak dilarang membaca buku.

Jauh sebelum buku KD terbit, yang konon menjadi best seller, buku Tiara Lestari-Uncutstories sudah ada, sudah duluan nongkrong di Palasari. Lalu siapa Tiara Lestari, sampai bikin buku segala?. Dia adalah seorang model, lalu go international. Pernah naked di majalah Play Boy edisi Spanyol, dan itu yang bikin heboh masyarakat Indonesia. Dan jalan hidup manusia punya ceritanya yang berlain-lainan. Seperti ada titik balik yang mencerahkan. Dia kemudian pulang ke Indonesia dan menikah dengan ponakannya Alm. Harry Roesli. Terakhir sempat juga dia mengisi satu lagu di album religi Baron (mantan gitaris GIGI). Buku ini semacam otobiography, menceritakan perjalanan hidup dari waktu kecil sampai detik ketika dia menulis. Beberapa bagian dari buku ini di posting juga di blog pribadinya dengan memakai bahasa Inggris.

Setelah bayar, saya dapat bonus : semua buku yang harganya di atas 15 ribu, boleh dengan cuma-cuma dikasih sampul bagus sama si uda yang duduk di dekat pintu. [ ]

Norwegian Wood


Haruki Murakami penulisnya, dari namanya pasti sudah ketahuan dia orang mana. Saya beli tanggal 1 Mei 2006, sehari sebelum meluncur ke Cengkareng, sehari sebelum bekerja sebagai jongos. Bandung dingin dan berkabut, di jalan Wastukencana saya menenteng buku bersampul putih itu, menunggu angkot Kalapa-Ledeng.

Tadi siang saya sudah pamitan pada kawan-kawan di Sarijadi. Pada kawan-kawan yang masih menganggur, menunggu rahmat kerja di balik tumpukan koran hari sabtu dan rokok yang jarang terbeli sebungkus. Tapi keberangkatannya diundur, kehabisan mobil katanya. Perusahaan travel laku keras, satu kursi pun tidak tersisa buat calon jongosnya pergi ke bandara.

Angkot datang, saya duduk di bangku paling pojok. Mobil masih kosong, masih harus menunggu, agar setoran dapat terkejar. Tapi para mahasiswa sering banyak yang menggerutu kalau angkot berlama-lama, takut kesiangan katanya, padahal di kampus pun jarang ada dosen. Calo teriak-teriak bikin perhatian agar calon penumpang mendengar, nanti dia bakal dikasih uang recehan sama pak sopir, buat beli rokok, upah dari suaranya itu. Sambil berlama-lama menunggu penuh, saya buka buku Norwegian Wood.

Cerita dimulai dengan orang yang melamun di kursi pesawat, ketika hampir landing di Jerman. Sesekali diganggu pramugari yang bertanya dan menawarkan ini-itu, sehingga membuyarkan lamunan si penumpang. Kondisi bandara yang berkabut digambarkan dengan baik, lalu terdengar lagu The Beatles, mengingatkan kembali penumpang itu pada masalalunya waktu kuliah di Jepang, dan pernik kehidupan lain yang pernah ia lalui. Kemudian cerita bergulir ke belakang.

Harus sabar membaca novel ini, sebab Haruki menulisnya dengan tempo lambat dan terkesan tidak mau loncat-loncat untuk mengakhiri cerita. Orang-orang yang nafas membacanya pendek, mungkin akan cepat dihampiri bosan, atau mata yang tiba-tiba berat disergap ngantuk. Jadi harus latihan “pernafasan” dulu. Saya baru membaca setengah, sebab sehari setelah itu saya menjadi jongos yang sibuk : dikuasai oleh banyak betul pekerjaan dan para konsumen travel yang sumbu kesabarannya sangat pendek. [ ]

Khotbah Di Atas Bukit


Alangkah tidak enak menjadi pengangguran, waktu seperti berjalan cepat, meninggalkan saya yang tercecer di belakang, tanpa pekerjaan dan penghasilan. Orang-orang berlomba saling menyalip nasib, sementara jutaan yang lain berdiri di pinggiran zaman, hanya sebagai penonton. Tapi sejak kapan rejeki hanya diberikan kepada orang-orang yang bekerja saja?. Dan di suatu hari yang sangat lembab, di antara deret waktu dalam masa pengangguran, saya masih punya uang, masih bisa membeli buku di kota Bogor. Curah hujan sangat tinggi waktu itu.

Turun dari L 300, langsung singgah di Mesjid Raya Bogor, berlari sambil dihujani air dan angin yang berhembus kencang. Di emperan mesjid, penuh oleh orang-orang yang berteduh, dan hujan seperti tidak memberi tanda-tanda akan cepat berhenti. Setengah jam sudah lewat, tapi langit masih setia menyiram bumi. Jejentik jam terus berdetak, seperti menghitung setiap tetes air yang beradu dengan tanah dan daun. Waktu hujan mulai reda, tukang soto dan tukang bakso diserbu pembeli. Saya menimbang kantong, menghitung uang yang tersisa : mudah-mudahan ada sedikit dana untuk menentramkan perut yang minta jatah. Tapi sepertinya uang yang tersisa hanya cukup buat beli sebuah buku saja. Daripada tergoda, akhirnya saya berlari menuju Gramedia.

Buku Khotbah Di Atas Bukit, karya Kontowijoyo. Kata orang-orang, kata para penikmat sastra, buku ini katanya bagus dan menarik. Tapi saya merasakan sebaliknya : ceritanya tidak menarik dan monoton. Manusia memang punya seleranya masing-masing, lagi pula saya bukan orang sastra, maka wajar saja ; Barman adalah seorang duda yang sudah pensiun dari pekerjaannya. Kemudian dia pergi ke sebuah bukit dan diam di villa. Di sana dia mengalami banyak peristiwa spiritual dan hal baru yang belum pernah sama sekali dia alami, seperti punya banyak pengikut dan bertemu dengan orang misterius. Tentu akan cukup melelahkan kalau saya ceritakan semuanya, jadi cukuplah demikian.

Kontowijoyo telah menghabiskan uang saya, yang tersisa hanya ongkos untuk pulang ke Jalan Baru. Sementara hujan kembali turun dan angin terus menderu. [ ]

Minggu, 11 Oktober 2009

Hikari No Michi


Apa yang kau ketahui tentang Jepang?, tentang negeri Matahari terbit itu?. Mungkin anak-anak akan segera menyebut Doraemon dan kafilah tokoh kartun lainnya. Orang-orang tua yang masih tersisa dari zaman penjajahan, mungkin akan teringat kembali pengalaman pahit tentang Jugun Ian Fu. Dan anak-anak muda yang hidup di zaman facebook, mungkin akan bersicepat menyebut nama bintang film porno yang kabarnya akan datang ke Indonesia, namanya tak usahlah saya sebutkan : pasti kalian sudah hafal di luar kepala. Ternyata Jepang tidak sekedar kartun dan bunga Sakura, tapi ada juga sisi lain dari kehidupan masyarakatnya yang diceritakan oleh buku yang belum lama saya beli.

Hari itu Jakarta seperti biasa sedang panas, bikin malas untuk keluar kamar. Cucian sudah dari pagi di jemur, dan menyisakan saya yang tidak ada kerjaan selain membaca buku-buku usang, buku-buku yang sudah lama nongkrong di lemari. Lalu ide datang menghampiri : bagaimana kalau saya mencari hembusan AC, mungkin akan segar betul di tengah udara yang garang memanggang. Dan sudah dapat ditebak ke mana saya akan pergi? : Gramedia Cempaka Mas. Lihatlah saya meluncur ditemani kantong kecil yang setia di punggung.

Monster oranye sudah menunggu di mulut jalan, penumpangnya kusut semua, mungkin mengutuki hari yang panas dan berdebu. Jakarta semakin sesak saja oleh muka-muka seperti itu. Cukup ongkos seribu rupiah, dan sampailah sudah. Bukan ITC namanya kalau sepi, karena lihatlah orang-orang sibuk bertransaksi. Ada yang menjual dan membeli. Ada yang untung dan merugi. Saya menerobos lautan manusia dan segera mencari tangga ke bawah, ke hembusan AC yang dituju itu.

Sebenarnya hari itu tidak berniat membeli buku, mungkin sama juga dengan kebanyakan orang yang hanya sibuk membaca, bagai toko buku itu perpustakaan umum saja. Buku-buku baru yang bagus-bagus seperti semangkuk sop buntut yang menggoda perut-perut lapar, mereka bertumpuk dan tersenyum sinis kepada para penggemar buku yang berkantong tipis. Saya datangi mereka dan saya berbisik : “Covermu saja kau bagus-baguskan, sampai hargamu mahal dibuatnya, padahal isi kau hanyalah tulisan-tulisan kering dan hambar”. Lalu saya tinggalkan mereka, dan menuju buku-buku novel yang warna-warni covernya, bagai kembang gula yang sering dikerubuti anak-anak.

Buku yang saya beli bukanlah cerita fiksi, meskipun berada di rak novel. Mungkin karena para penulisnya adalah anggota Forum Lingkar Pena, yang mayoritas sering menulis cerita fiksi. Hikari No Michi : adalah kumpulan cerita tentang proses mendapatkan hidayah yang dialami para muallaf Jepang, tentang mendapatkan jalan terang dalam naungan Islam. Selain itu, diceritakan juga bagaimana kehidupan sehari-hari Muslim Jepang yang banyak menikah dengan orang Indonesia, pernikahan lintas negara, tapi dalam satu ikatan yang kuat, yaitu ikatan akidah. Di negara yang budaya minum sakenya sangat kuat, mereka berjuang mendapatkan dan mempertahankan akidah. Begitulah kira-kira isinya.

Saya ambil satu dan segera meluncur ke kasir. Saya harus bayar, biar tidak ditangkap satpam. Dan hembusan AC semakin dingin. [ ]

Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu


Braga. Buku sedang dipamerkan di situ. Sedang dijual murah. Sedang banyak pengunjung, yang membuat ruangan di sebuah gedung menjadi gelap, seperti mau turun hujan. Segan juga saya mau masuk, belum di dalam gerahnya sudah terasa. Lebih baik minum air dingin dulu, ditemani batagor di depan Bank Mandiri, di dekat rel kereta yang memanjang ke arah Kebon Kawung. "Sabaraha mang?", sambil mengeluarkan dompet. " Genep rebu A", menjawab cepat. Transaksi selesai, meninggalkan perut yang kurang kenyang, sebab batagornya sedikit.

Kantong kecil sudah dari tadi di punggung, lalu saya masuk. "Assalamu'alaikum", saya kasih salam penghuni gedung, tapi tak ada yang menjawab, mungkin karena suara saya ditelan gemuruh hiruk-pikuk orang-orang yang sibuk memilih buku. Betul kan kata saya tadi, gerah betul di dalam gedung, tapi pantang mundur, maju terus. Dari banyaknya orang, tak ada satu pun yang saya kenal, mungkin selama ini saya kurang gaul. Semakin ke dalam semakin berisik oleh banyak suara : anak-anak TK sedang ada acara di sana, di bimbing ibu-ibu gurunya yang sudah pada tua. Mungkin mau memperkenalkan buku pada usia sedini itu, tapi apa boleh buat yang ada mereka berlari-lari main kucing-kucingan dan petak umpet, kasihan ibu gurunya jadi kerepotan.

Di lantai atas banyak dijual buku-buku "merah" yang kurang laku, hanya satu-dua orang pembelinya. Saya pun tidak beli, malas. Waktu itu novel yang judulnya ada kata "cinta" sedang laku-lakunya, tapi saya tidak beli, sudah punya. Andrea Hirata sedang ngetop, bukunya laku bagai nasi uduk di depan kostan Sumur Batu, yang ini juga tidak saya beli, sudah dua bulan nongkrong di kostan. Lalu saya beli buku apa?.

Tolstoy bikin buku : Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu. Lumayan tebal, tapi untunglah kena discount. Kumpulan ceritanya panjang-panjang, dan kental aroma religi. Sampai sekarang belum selesai saya baca, karena keburu berpisah : dia di Bandung, saya di Jakarta. Mudah-mudahan dia tidak dimakan serangga dan tidak dikencingi tikus. [ ]

The Hidden Face of Iran (Searching for Hassan; a jouney to the heart of Iran)


Di Sukajadi ternyata ada semacam pusat jalan-jalan, pusat belanja buat orang-orang yang punya duit, namanya PVJ, singkatan dari apa itu? : silahkan cari sendiri. Saya juga pernahlah ke sana, di suatu siang yang cukup terik, waktu liburan kerja sedang datang. Saya lihat orang-orang banyak betul yang belanja ini-itu, ada juga yang duduk-duduk manis menikmati minuman dingin di tempat-tempat bagus. Saya jalan sendirian mencari toko buku, tapi tidak tahu letaknya di mana, lalu bertanyalah kepada satpam yang sorot matanya penuh kecurigaan. "Oke pak, terimakasih !", lalu saya turun ke bawah, ke toko buku itu. Amboi, ternyata selain toko buku, di bawah juga sedang ada pameran buku yang sedang berbanyak discount !!. Kemudian saya tenggelam.

Stand-stand penerbit buku berjajar panjang seperti orang sedang antri di ATM. Di setiap stand saya berhenti : lihat-lihat, siapa tahu ada buku yang mantap. Udara dingin setia menyapa, maklum AC berhembus kencang. Seorang ibu membawa semacam keranjang, isinya buku melulu, mungkin jumlahnya sudah sebelas buku, tapi dia masih saja mengaduk-ngaduk buku yang lain. Saya sempat berpikir : mungkin si ibu ini mau jualan buku, mau ambil untung dari selisih penjualan, ah tapi kayaknya gak mungkin. Di sebelahnya ada anak kecil, mungkin anaknya, sebab dia ikut terus ke mana si ibu pergi. Sempat saya dengar dia berucap pada anak kecil itu : "Ayo ade, kamu mau buku yang mana?, ambil aja, mama aja udah ambil dua belas, masa ada belum satu pun". Ampun lur, rakus betul si ibu ini sama buku, kayak beli sayuran aja. Pasti di rumahnya sudah ada perpustakaan, begitu sangkaan saya.

Hari sudah mulai sore, tapi saya belum beli buku satu pun. Setengah stand sudah saya kunjungi, walau pun sambil berdesakan dengan pengunjung yang lain. Banyak betul buku-buku baru, sampai saya pusing harus ambil yang mana, mau ngeborong tidak enak hati, nanti seperti pemborosan kesannya. Lagi pula duit bukan buat beli buku saja, masih ada pos-pos lain yang memerlukan suntikan dana : macam makan-makan dan bayar kostan. Lalu saya datangi satu stand yang menggelar jualannya lesehan alias tidak pake rak, macam orang jual gudeg. Dan bertemulah saya dengan buku itu.

The Hidden Face of Iran adalah catatan perjalanan sebuah keluarga warga Amerika ke jantung kota Iran. Pastilah buku ini terjemahan, karena saya tidak sanggup kalau isinya berbahasa Inggris, payah betul soalnya. Judul aslinya adalah "Searching for Hassan; a journey to the heart of Iran". Saya tidak mau meresensi isinya, karena saya tidak bisa. Tapi isinya lumayan rame, sampai saya sudah khatam dua kali, dan kerap mengutip kata-kata dari buku ini. Sampai seorang kawan sempat berucap : "dasar kau plagiat !!". [ ]

Api Sejarah


Karena saya belum punya, maka saya belum betul-betul membacanya. Membaca apa? : buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara. Buku bercover hitam yang cukup tebal dan harganya lumayan mahal. Tapi untuk orang yang berbanyak uang, harga mungkin bukanlah masalah.

Lebaran sudah lewat, waktunya untuk arus balik. Saya meluncur dari Sukabumi menuju Jayakarta, untuk kembali mengaduk-ngaduk job des di depan meja. Perjalanan yang kurang menyenangkan, kepala pusing dan hampir mengeluarkan sesuatu dari mulut : mual melanda, dirayu bau bensin dan asap Djarum Coklat. Menjelang gelap saya tiba di Jakarta.

Besoknya lewat pesan di ponsel, si Joni laporan : "lapor komandan, Api Sejarah sudah di tangan, laporan selesai". Tanpa menunggu hari esok langsung saya balas : "laporan diterima, segeralah kau ke tanah Jawa, wah curiga deuk mawa apollo (semacam kue yang bagus buat perut lapar) yeuh?". SMS langsung dijawab lagi : "negatip ah, urang deuk mawa nasi lemang". Saling balas pesan kemudian berhenti.

Besoknya setelah bikin janji yang cukup bagus, akhirnya si Joni tiba di Depok, meninggalkan kampungnya di Siak, di sebuah tanah di wilayah Andalas. Agenda pertama adalah membantai nasi lemang yang ukurannya bisa masuk MURI, dan rasanya mengesankan : dahar saeutik menyebabkan wareg !!. Tak lupa kasih juga yang punya kostan sebagai silaturahim kepada tetangga. Setelah perut terjungkal telak oleh hantaman nasi lemang, lalu si Joni tidur siang dan saya menyapa buku Api Sejarah.

Isinya, isi buku Api Sejarah itu sepertinya dapat menghantam tulisan sejarah di buku-buku mainstream di sekolah. Harus berbanyak meluangkan waktu agar dapat menghabiskan semua isinya. Dan hari semakin senja setelah itu. [ ]

Mencari Senyum Tuhan


Saya lupa lagi tanggalnya, hari itu sedang sabtu. Depok selepas maghrib, dan lampu jalan masih digoda rintik hujan yang menyejukkan bumi. Perut saya digoda lapar, untuk kemudian bersegera membeli mie Aceh yang kurang mantap, tapi porsinya setelan untuk berantem. Kawan saya, si Joni terkapar kekenyangan, lalu menghisap cigaret produksi Philip Morris. Aroma mie masih setia menampar hidung, sebab tempat penggorengannya tidak jauh dari tempat duduk kami. Uang sedang tidak banyak, tapi masih ada. Masih bisa buat membeli beberapa buku tipis yang harganya tidak bikin sesak. Sambil ngobrol saya lempar wacana : "Jon, bagaimana kalau sekarang kita belanja buku?". Joni, kawan saya yang lumayan kutu buku itu langsung menjawab : "Balanja di mana Wa?, geus peuting kieu". Pasti bukan karena lupa pada Gramedia beliau menjawab begitu, pasti karena harga buku-buku di Gramedia yang kurang bersahabat dengan kantong mahasiswa. "Di Eureka Jon !!". Dia yang kuliah di Depok, yang jaket almamaternya berwarna kuning, yang kostannya tidak jauh dari jalan Margonda, adalah dia yang tidak tahu bahwa di jalan Margonda ada toko buku bernama begitu, bernama "Eureka" itu. Lalu kami tidak memperpanjang pembicaraan, karena lihatlah motor Ninjanya yang berwarna merah langsung membawa kami ke Eureka.

Seorang kasir langsung menyambut kami dengan ramah, dengan senyum yang cukup bagus, walaupun hari sudah malam. Sepi tidak ada pengunjung, hanya kami saja yang kemudian melihat-lihat jejeran buku di rak yang bersih dan rapi. Buku yang dijual discount semua, bikin saya berselera berlama-lama. Si Joni mencari buku inspirasi katanya, lalu dia mengacak-ngacak novel dan fiksi yang sejenisnya. Saya mencari buku yang discountnya paling besar, biar nanti kalau membayar paling murah. Ada saya lihat buku agak tipis dengan sampul yang kurang menarik, tapi penulisnya bikin saya akhirnya mendekati.

Tiba-tiba saya ingat beberapa waktu ke belakang, waktu itu masih Mts, sekolah Islam setara dengan SMP. Bapak di rumah berlangganan koran Republika, saya pun ikut-ikutan baca, baca sambil tidur-tiduran, akhirnya mata saya minus tiga. Bapak rajin betul baca koran, terutama tulisan tentang politik dan agama. Di halaman paling belakang, ada sebuah rubrik yang bernama "Resonansi". Tulisannya bagus-bagus kata Bapak, seperti mengajak saya untuk membaca rubrik itu. Lalu saya coba, lalu saya kurang mengerti, bahasanya belum terjangkau anak seusia saya. Tapi saya masih ingat, salah satu penulisnya yang rajin kirim tulisan adalah Miranda Risang Ayu. Nama yang bagus gumam pikir saya waktu itu.

Si Joni masih sibuk mencari novel yang sesuai dengan kondisi kejiwaannya, dan hujan masih gerimis menyelimuti tanah Depok dan sekitarnya, ketika saya akhirnya membeli "Mencari Senyum Tuhan", sebuah buku karya Miranda Risang Ayu.

Niatnya mau berhenti dulu membeli buku, tapi ternyata tidak semudah itu. Sampai jumpa di toko buku selanjutnya. InsyaAllah. [ ]