Jumat, 16 Oktober 2009

Kuantar ke Gerbang


Soekarno muda, atau Inggit memanggilnya dengan sebutan Kusno, adalah seorang mahasiswa cerdas yang aktif mengorganisasi berbagai elemen pergerakan kaum muda. Dia kuliah di sekolah teknik di Bandung, yang sekarang bernama ITB. Oleh ayah mertuanya (Soekarno sudah menikah dengan Utari) dia dititipkan di salah seorang kawannya yang tinggal di Bandung. Di kota ini kemudian Soekarno bertemu dengan Inggit dan menikahinya, sementara istrinya yang pertama dia kembalikan kepada orangtuanya.

Sebagai seorang aktivis, rumah Soekarno kerapkali didatangi oleh para mahasiswa, wartawan, karyawan, dan elemen pergerakan lainnya untuk membicarakan strategi perlawan terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Dan oleh sebab itulah, Inggit kerapkali “direpotkan” dengan urusan ini-itu untuk sekedar menjamu tamu-tamu suaminya. Inggit melihat suaminya yang lebih muda itu, sebagai sosok seorang pemimpin masadepan yang akan menjadi pelopor kebangkitan bangsanya, oleh karena itu dia bantu sebisa mungkin setiap kebutuhan yang akan melancarkan cita-cita perjuangan Soekarno muda.

Ketika Belanda mulai merasa terancam oleh sepak terjang Soekarno, maka dia ditangkap dan dijebloskan ke penjara Sukamiskin. Romantika perjuangan dan kecintaan Inggit pada suaminya dilukiskan oleh Ramadhan K.H (penulis buku ini-sekarang sudah alm) dengan cukup baik. Inggit banting tulang berjualan untuk membiayai suaminya yang sedang di penjara. Dia berjalan kaki dari Ciateul ke Sukamiskin untuk menengok Soekarno sambil membawa makanan. Waktu Soekarno dibuang ke Bengkulu, Inggit pun ikut ke sana. Ikut merasakan keprihatinan hidup di pembuangan sebagai tahanan politik Belanda. Dan di episode-episode perjuangan Soekarno yang lain, Inggit setia menemaninya.

Kisah percintaan di tengah gejolak revolusi itu harus berakhir ketika Soekarno meminta ijin kepada Inggit untuk menikah lagi, karena selama ini pernikahannya dengan Inggit belum kunjung berhasil menghadirkan seorang anak. “Teu sudi kuring mah dimadu, leuwih alus balikkeun we ka kolot kuring” (saya tidak mau dimadu, lebih baik kembalikan saja saya kepada orangtua saya), jawab Inggit dengan nada bicara yang getir. Inggit mengantarkan Soekarno hanya sampai pintu gerbang kemerdekaan.

“Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan”, demikian kata Inggit, mengantar kepergian Soekarno ketika mereka berpisah. Episode kisah ini seperti sebuah pohon kecil di taman luas sejarah Indonesia. Dan penulisan sejarah mainstream, sangat jarang mengangkat pengabdian seorang perempuan asal Ciateul ini. Apakah sejarah hanya berpihak pada orang-orang besar saja?. [ ]

Ats-Tsawabit Wal-Mutaghayyirat


Untuk orang-orang yang berafiliasi dengan jama’ah Tarbiyah, buku ini mungkin sudah tidak asing lagi. Sebab, buku apa yang beredar atau sering dibaca oleh orang-orang yang tergabung dengan sebuah harokah atau pergerakan, sedikit-banyaknya ternyata bisa dideteksi. Manhaj dan fikrah sebuah gerakan, tidak sedikit yang diabadikan dalam buku-buku yang dibuat oleh para aktivisnya. Mereka, para aktivis yang menulis itu, adalah mereka yang sadar akan pentingnya sebuah proses pewarisan. Dan dari seorang aktivis pergerakanlah buku ini lahir, dia memetakan prinsip-prinsip dakwah dalam bentuk tulisan.

Ikhwanul Muslimin sebagai sebuah organisasi dakwah (menurut beberapa literature adalah gerakan Islam terbesar abad ke-20), tentu mengalami perjalanan dalam menempuh medan dakwahnya yang terus bergerak dinamis. Dalam kondisi seperti itulah dakwah akan mengalami perkembangannya dalam hal konsep. Jum’ah Amin, penulis buku ini memetakan bahwa konsep dakwah Ikhwan harus bisa permanen dan fleksibel. Artinya, prinsip-prinsip apa saja yang tidak boleh berubah, dan apa yang boleh disesuaikan dengan perubahan medan dakwah, tetapi tetap dalam bingkai dakwah yang konprehensif.

Tapi menurut saya, dalam buku ini penulis lebih banyak membahas sisi Tsawabit (permanen)nya, daripada yang Mutaghayyirat (fleksibel). Ada sepuluh poin yang penulis kemukakan tentang konsep-konsep permanen dalam dakwah Ikhwan. Diantaranya yaitu : Ikhwan menolak kekerasan dalam dakwahnya, kewajiban beramal jama’i dalam dakwah, syuro sebagai pemersatu yang mengikat bila terjadi perbedaan pendapat diantara Ikhwan. Disertai dengan pembahasan rukun-rukun baiat dan 20 prinsip dasar dakwah Ikhwan, buku ini semakin memperkaya literature yang selama ini telah banyak dijadikan sebagai buku pegangan para aktivis dakwah, khususnya jama’ah Tarbiyah.

Tahun terbit dalam buku ini (edisi Indonesia) tertera tahun 2008, artinya buku ini muncul sepuluh tahun setelah jama’ah Tarbiyah bermetamorfosis menjadi partai politik. Pertanyaannya : apakah buku ini sengaja dihadirkan untuk mendukung ijtihad pembentukan partai politik?. Dan apakah pembentukan partai politik itu adalah salah satu bentuk Al-Mutaghayyirat (fleksibel)?. Kawan-kawan mungkin ada yang lebih tahu jawabannya?. [ ]

Kamis, 15 Oktober 2009

Orang-orang Bloomington

Apakah kau pernah punya tetangga yang cerewet, usil, jorok, nyinyir, menjengkelkan, menyebalkan, dan sok tahu?. Bagaimana perasaanmu punya tetangga-tetangga seperti itu?. Tidak nyaman bukan?. Kalau kau belum punya, mari kita jalan-jalan ke Bloomington bersama Budi Darma. Bersama penulis yang tidak jarang sangat tega memperlakukan tokoh-tokoh ceritanya. Bersama penulis yang telah melahirkan beberapa karya : Rafillus, Olenka, Fofo Senggring, Orang-orang Bloomington, dll.

Saya dapat buku ini di Rumah Buku (komunitas pecinta buku dan film), di Jalan Hegarmanah-Setiabudi (yang tidak tahu Bandung, mohon maaf). Bung Ivan Hadi Pranata (ivankampak.multiply.com) menjadi provokator, dia mengajak saya jadi member Rumah Buku, maka lihatlah siang itu saya hujan-hujanan seperti film India, duduk di belakang jok motornya, meluncur menembus derasnya hujan untuk sekedar meminjam dua buah buku. Mangsanya adalah “Mereka yang Dilumpuhkan” karya Pram, dan “Orang-orang Bloomington”. Saya sedang membicarakan yang kedua.

Buku kumpulan cerpen ini akan sangat terasa bedanya, oleh mereka yang berbanyak membaca cerpen karangan penulis-penulis lain. Kalau kau pernah baca cerpen-cerpennya Joni Ariadinata, Hamsad Rangkuti, Helvy Tiana Rosa, Gola Gong, Seno Gumira Ajidarma, AA. Navis, Djenar Maesa Ayu, dan yang lainnya, maka kau akan tahu bahwa Budi Darma membangun karakter tokohnya dengan sangat kuat. Dia perlakukan tokoh-tokohnya menjadi orang-orang yang menjengkelkan, menyebalkan, dan karakter-karakter yang lain. Orang mungkin akan berpikir bahwa si penulis, si Budi Darma ini adalah seorang yang sifatnya sama dengan tokoh-tokoh yang dia bangun, padahal kata orang-orang yang kenal dengan beliau, dia adalah seorang yang low profile, kontradiktif dengan tokoh-tokoh rekaannya. Kumpulan cerita ini menurut saya bisa menjadi sebuah bahan otokritik : apakah kita sering usil, cerewet, dan membuat orang lain jengkel?. Selamat bercermin.

Setelah selesai membaca buku ini, saya sempat bersemangat menulis cerpen dengan karakter tokohnya meniru gaya Budi Darma, tapi hasilnya hanya beberapa paragraph : “Penghuni Kost Nyonya Endeus” dan “Olva Mengintip di Jendela”, yang saya posting di uwa82.multiply.com, setelah itu saya belum pernah menulis cerpen lagi.

Budi Darma membuat karya ini sewaktu beliau menempuh studi di Bloomington, jadi semacam oleh-oleh dari hasil “jalan-jalan”-nya di negeri orang. Sepulang dari luar negeri, beliau sempat mengajar di beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur, dan di peta Sastra Indonesia, beliau mendapat tempat yang cukup terhormat. [ ]

Jendela-jendela

Banyak yang menyukai tulisan-tulisannya Fira Basuki, buku triloginya (Pintu, Jendela, Atap) mendapat respon yang cukup baik dari pembaca. Dan dari sekian banyak pembaca itu, saya adalah salah satu yang kurang begitu suka dengan tulisannya. Alasannya kenapa?, kau tidak perlu mengetahuinya. Saya dapat buku ini di Palasari, waktu jalan-jalan minggu siang yang tidak menyenangkan : Bandung sedang panas dan macet pisan.

Fira menceritakan sebuah keluarga muda asal Indonesia yang menetap di Singapura. Si istri yang tinggal di apartemen (sementara suaminya bekerja), sempat selingkuh dengan kawannya. Itu penggalan cerita yang paling saya ingat dari buku ini, sementara sisanya saya lupa lagi. Mungkin kawan-kawan ada yang bertanya : menceritakan perselingkuhan kok lewat buku segala mbak?, silahkan berkomunikasi langsung dengan beliau di Facebook atau di Multiply. Bagi saya tidak ada kesan apa pun setelah membaca buku ini, selain kata-kata : “ah, kurang rame”.

Selain menulis trilogy, dia juga menulis buku “Biru” dan novel adaptasi dari film karya Garin Nogroho : “Cinta Dalam Sepotong Roti”. Buku novel adaptasinya cukup tipis serta ukurannya kecil, dan seperti novel-novel Indonesia yang diadaptasi dari film : isinya tidak ada yang istimewa (Biola Tak Berdawai mungkin pengecualian). Sekarang semakin banyak saja penulis perempuan yang hadir di dunia perbukuan Indonesia, dan akan kau dapati bahwa mereka melakukan perang karya dan pemikiran, berlomba meyakinkan para pembaca dengan tulisan-tulisannya. Dan memang, karya harus dibalas dengan karya, tulisan dilawan dengan tulisan. [ ]

Menghilangkan Trauma Persepsi

Buku ini adalah kumpulan materi yang disampaikan oleh KH. Hilmi Aminudin (Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera) kepada para kader partai tersebut dalam berbagai pertemuan. Naskah ini awalnya hanyalah sekumpulan arsip yang tersimpan rapi di Sekretariat Jenderal Arsip dan Sejarah DPP PKS, namun para pengurusnya kemudian berinisiatif untuk membukukan dan melemparnya ke ranah publik, dengan tujuan agar arsip dokumen tidak sekedar menjadi benda yang kaku dan hanya dibuka lagi sewaktu-waktu, tapi berubah menjadi sesuatu yang bisa diakses publik, sebagai pembuktian dari sikap partai yang (katanya) tidak eksklusif, juga sebagai bahan pembelajaran untuk setiap kader partai dakwah itu.

Pertama kali lihat buku ini adalah di toko buku Al Amin, Bogor. Tapi saya tidak merasa tertarik. Beberapa bulan kemudian, setelah berkomunikasi dengan Bung Hamzah (kawan sewaktu kuliah), barulah saya penasaran dengan isi buku ini. Lalu saya balik lagi ke Bogor, dan menawannya sampai sekarang. Isinya adalah tentang arahan-arahan dan nasihat sang ketua Dewan Syuro kepada para kader partai yang bertarung di tengah hiruk-pikuk dan galaunya dunia politik Indonesia. Ide-idenya menurut saya cukup segar dan visioner. Jika kita selama ini merasa heran dan bertanya-tanya mengenai manuver-manuver PKS yang “aneh” dalam berpolitik, maka buku ini bisa memberikan jawabannya.

Yang cukup mengganggu dari buku ini adalah terlalu banyaknya istilah-istilah bahasa Arab yang digunakan oleh KH. Hilmi Aminuddin dalam menyampaikan taujihnya. Meskipun ada penjelasan dalam bahasa Indonesianya, tapi tetap saja menurut saya mengurangi kenyamanan dalam membaca. Buku ini terbit hard cover dan harganya tidak terlalu tinggi.

Jika kita ingin “melihat” PKS, berarti kita juga harus “melihat” sejarah gerakan Ikhwanul Muslimin a.k.a Tarbiyah yang masuk ke Indonesia. Sebab pengetahuan yang parsial akan menghasilkan pemahaman yang parsial juga. Kini PKS tumbuh sebagai partai politik yang penuh dinamika. Mungkin kurang tepat jika disebut faksi, yang jelas perbedaan-perbedaan di dalam partai tentulah ada, bahkan di dalam jamaah Tarbiyah (sebelum era partai) sendiri perbedaan-perbedaan itu sudah ada. Cukup menarik jika kita mengikuti pendapat-pendapat Ustadz Daud Rasyid, Ustadz Ihsan Tanjung, dan ustadz-ustadz Tarbiyah yang lain, yang berada diluar kepengurusan partai. Baru-baru ini saya mengikutinya di eramuslim. [ ]

Rabu, 14 Oktober 2009

Andaikan Buku itu Sepotong Pizza

Kau tidak perlu tahu, bahwa di Gramedia jalan Merdeka itu ada semacam toko cadangan. Ruangan untuk menampung buku-buku yang nilai penjualannya agak memprihatinkan, alias kurang laku. Sampai nanti akan kau temui ada yang harganya 5 ribu, karena sepertimya main obral begitu saja daripada tidak ada yang membeli. Tapi jangan harap buku-buku karangan Andrea Hirata, Dee, dan Habiburrahman akan nongkrong di sini. Setidaknya untuk saat ini hal itu sulit terwujud, barangkali nanti beberapa tahun ke depan. “Andaikan Buku itu Sepotong Pizza”, saya lihat tengah meringkuk di pojok toko cadangan itu, barangkali dia malu, sebab orang-orang kurang berminat kepadanya. Padahal penulisnya lumayan terkenal, dia pernah menulis buku “Aku Ingin Bunuh Harry Potter” dan “Mengikat Makna” yang konon best seller : Hernowo.

Coba bayangkan, bagaimana kalau buku itu adalah sepotong pizza yang lezat, banyak taburan ini-itu, dan ada toppingnya juga. Tentu kita akan lahap menyantapnya. Begitulah Hernowo menulis buku ini : banyak betul taburan cerita, kata-kata mutiara, pengalaman yang (menurut dia) berharga. Hernowo seperti ingin mengajak para pembacanya untuk masuk ke setapak jalan yang dia lalui, maka bersiasatlah dia dengan mengemas tulisannya semenarik mungkin.

Kalau gak salah dia juga sempat mengutip kata-kata Ali Syariati (penulis Iran) : “Jangan jadikan rumahmu sebagai kandang, yang isinya hanya makanan dan minuman saja. Isi juga dia dengan buku, sebagai makanan ruhanimu. Jika ruhanimu haus, maka kau dapat memenuhinya dari buku-buku itu.” Tapi, bagaimanapun Hernowo bersiasat, buku tetaplah buku : penjualannya dipengaruhi oleh banyak factor, diantaranya selera pembeli dan kondisi keuangan.

Saya sempat membayangkan, bagaimana jadinya kalau judul buku ini diganti : “Andaikan Buku itu Sepotong Bala-bala”, akankah dia menjadi lebih laku?. Ah, jangan banyak melamun kau !. [ ]

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk


Zainudin adalah anak yatim piatu. Bapaknya orang Minang yang terusir dari kampungnya, karena membunuh dalam sebuah konflik keluarga, dia seorang yang berkarakter keras. Ibunya orang Mengkasar (Makassar), seorang yang lembut. Mereka bertemu di Mengkasar, dan dua karakter akhirnya bersatu dalam pernikahan, maka lahirlah Zainudin. Sepeninggal kedua orang tuanya, Zainudin diasuh oleh seorang tua, bernama Mak Base. Dulu sewaktu ayahnya masih hidup, Zainudin sering mendengar cerita ayahnya, bahwa kampung ayahnya itu adalah sebuah kampung yang indah di balik gunung Singgalang. Cerita itu bergulir sebagai bentuk kerinduan sang ayah pada kampung halamannya yang telah lama ditingggalkan. Maka suatu hari berangkatlah Zaunudin ke kampung halaman ayahnya, diiringi tangis Mak Base yang telah lama mengasuhnya.

Di tanah Minang, Zainudin bertemu dengan Hayati, dan dimulai dari sinilah cerita terus menanjak menuju berbagai konflik. Siapa Hayati?. Apa hubungannya dengan kapal Van Der Wicjk?. Lebih baik kau baca sendiri saja, gak bakalan rame kalau saya yang bercerita.

Bung Adi Ramdhan, kawan saya waktu kuliah, sempat berbaik hati dengan meminjamkan buku ini. Maka sore itu, dapat kau lihat saya duduk di pinggir lapangan bulutangkis, di kostan Barack menghabiskan cerita ini. Anak-anak sedang berisik betul di kamar Bung Boneng, teriak-teriak “goooooll”, mendengarkan siarang langsung pertandingan Persib vs Arema melalui RRI Bandung, bikin saya kurang konsentrasi membacanya. Tapi biarin : banyak kawan akan membuat kau banyak tahu, bahwa manusia punya hobi dan kesenangan yang berlain-lainan.

Seperti cerita HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang lain, yaitu “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, buku ini pun bercerita tentang kasih yang tak sampai, sama juga seperti ceritanya Marah Rusli : Siti Nurbaya. Orang-orang melankolik mungkin akan menangis membaca cerita ini. HAMKA yang seorang ulama terkemuka di jamannya, berhasil membuat cerita yang disukai oleh banyak orang. Kok bisa ya seorang ulama bikin novel?. Apakah beliau itu ingin memberikan ibroh/pelajaran lewat cerita-ceritanya?, saya pikir demikian. Dan sekarang, saya tidak pernah temui seorang Aa Gym, Zaenudin MZ, Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Jefry, dan yang lainnya bikin novel. Mungkin mereka tidak bisa bikin, atau mungkin karena memang hobi yang berlain-lainan?.

Belakangan, saya beli juga buku itu di Palasari, 18 ribu dia punya harga (itu habis kena discount). Lalu saya baca ulang, dan cerita HAMKA tetap tidak membosankan. Sekarang bukunya sudah agak langka, tapi mungkin ada dalam bentuk e-book, dan saya tidak pernah mencarinya. [ ]